Tuesday, April 18, 2006

Rupanya diajeng lagi pesan bakso bungkus.


Bacaan Al-Baqarah kututup pada 'Ain 24. Mana yi Maman gegedor pintu aja nyariin ambu ngajak makan malam. Sesaat kuganti nyala lampu dengan yang redup lalu kuhidupkan radio pada CnJ yang masih menyiarkan alunan Jazz. Dari kaca nako di warung Betty tampak berjajar Betty-Beng2-diapit agak kebelakang satu putri yang gak kukenal namun murah senyum. Lantas kugodai saja.
"Walah kamu Beng, sudah diapit oleh 2 putri kok masih melamun aja sih?" Kekehku.
Ketiganya tampak senyam senyum saja kecuali Beng2 menimpali."Wah si oom bisa aja nih."
"Awas lho Beng putri yang kiri lagi usap2 sepatunya. Klo terlepas bisa ngemplang kepala kamu."
Lanjutku, sementara Ambu bersama yi Maman tengah membicarakan fluktuasi usaha yang tajam.
"Nggak kok oom. Lagi ngeliatin yang lagi beli bakso nih." Tawanya rame.
Kuarahkan pandang ke gerobag bakso simas belakang nako. Tampak simas lagi mengirisi daging.
Sinar petromak yang terhalang tubuh sedikit menimpah lengan kuning yang agaknya tengah bersidakep sambil menunggu pesanan. Sisa cahaya menerangi sebentuk blus coklat kehitaman. Aku kok penasaran ingin tahu warna gaunnya. Ketika simas bergeser cahaya lampu menampilkan warna gaun yang hijau sarong. Rupanya diajeng yang tengah menanti selesainya pesanan bakso bungkus kesukaannya kalau dibandingkan dengan baksonya mas Harto. Ketika tangan diajeng memegang selembar uang kertas berwarna hijau, tampak Beng2 mendekatinya.
"Baru gue mau dibayarin tahu2 udah ngeluarin duit." Selorohnya.
Kulihat tembok dalam, jarum jam menunjukkan angka 18:50. Subhanallah, kalau begitu diajeng juga mendengar bacaanku di ayat2 terakhir sebelum berakhir di 'Ain 24. Maaf lho diajeng kalau suaraku serak2 kerbo, mana tajwid juga masih dalam taraf belajar. Namanya juga otodidak yang sejak 30 Ramadhan 1421H khatam perdana atau 27 Des 2000 sampai 15 Maret 2006 Alhamdulillah baru bisa khatam yang ke 14 kali.

No comments: